Friday, 17 May 2019

Adat Pepadun Dan Adat Sebatin

Siger pepadun dan sebatin

Kiyaisejarahwan- Adat merupakan suatu peraturan  yang mengatur pergaulan dari suatu kelompok atau suku dalam masyarakat tertentu, seperti halnya adat yang ada diprovinsi lampung.

Adat lampung terbagi menjadi 2, yang pertama adat pepadun dan yang kedua adat sebatin.

Dari kedua adat tersebut memiliki arti dari keduanya yang mana dapat kita uraikan sebagai berikut.

Secara bahasa pepadun berasal dari kata pepadu yang berarti padu satu,menyamakan,memadukan.

Secara istilah pepadun merupakan kesatuan dari sebuah kelompok atau suku yang pemimpin dari kesatuan disebut penyimbang, hal ini terjadi setelah berakhirnya keratuan atau kerajaan.

Adat pepaduan ini sebenarnya adalah suatu kelanjutan dari adat yang telah ada, sejak adanya kerajaan tulang bawang dan keratuan dilampung.

Disamping adat pepadun ada juga adat sebatin, adat ini terdapat pada suku lampung pesisir. Secara bahasa sebatin berasal dari kata batin artinya panutan atau yang diikuti, secara istilah sebatin merupakan satu kesatuan kelompok atau suku dimana setelah berakhirnya masa kerajaan atau keratuan pemimpin dari kesatuan itu disebut saibatin.

Perbedaan pada kedua adat yang ada dilampung ini terletak pada sistem pewaris kepemimpinan dalam satu keturunan,kepemimpinan adat sebatin yang memegang pimpinan adat adalah keturunan sebatin itu sendiri dan tidak dapat berpindah keturunan yang bukan keturunan sebatin. Disini lebih cenderung pada yang dinamakan Aristrokrasi yang tidak boleh diwarisi oleh orang lain, terkecuali keturun itu sendiri.

Sedangkan adat pepadun lebih cenderung ke demokrasi pewarisnya ditentukan dengan istilah yang dikenal "Musyawarah untuk Mufakat," dimana pewarisnya ditentukan hasil dari musyawarah mufakat keturunan dan diakui kesatuan adat pepadun.

Adapun wilayah pepadun dan sebatin.
Masyarakat beradat Pepadun terdiri dari:
  • Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.
  • Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, mesuji, Panaragan, dan wiralaga.
  • Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.
  • WayKanan Buway Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Way Kanan mendiami wilayah adat: Negeri Besar, Pakuan Ratu, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.
  • Sungkay Bunga Mayang (Semenguk, Harrayap, Liwa, Selembasi, Indor Gajah, Perja, Debintang)Masyarakat Sungkay Bunga Mayang menempati wilayah adat: Sungkay, Bunga Mayang, Ketapang dan Negara Ratu.
  • Dan cikoneng banten yang berawal dari persahabat anak kerajaan tulang bawang dengan sultan banten.

Sedangkan Masyarakat Adat Lampung Saibatin meliputi wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Marga Punduh, Punduh Pedada, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Provinsi sumatera selatan dan bahkan Merpas di Selatan bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:

  • Paksi Pak sekala brak (Lampung Barat)
  • Bandar Enom Semaka (Tanggamus)
  • Bandar Lima Way Lima (Pesawaran)
  • Melinting Tiyuh Pitu (Lampung Timur)
  • Marga Lima Way Handak (Lampung Selatan)
  • Pitu Kepuhyangan Komering (Provinsi sumatera selatan)
  • Telu Marga Ranau (Provinsi sumatera selatan)
  • Enom Belas Marga Krui (Pesisir Barat)

Pribahasa :
* Orang yang tidak bersejarah, bak halnya mati tidak terkubur.
* Orang tidak berketurunan, sama halnya nikah tidak bersaksi.
* Orang tak beradat sama halnya bercelan tidak berbaju.
* Orang mengaku-ngaku sama halnya katak dalam tempurung.

No comments:

Post a Comment

Adat Pepadun Dan Adat Sebatin